Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (BBSP KEBTKE)
Rabu, 18 Juni 2014
Advanced Natural Gas Fuel Tank Project
http://www1.eere.energy.gov/cleancities/pdfs/ngvtf11_pfeifer.pdf
Jumat, 13 Juni 2014
ANG Technology
ANG Technology
Robert Judd & Chiew Yen Law
buka di : http://www.apinvest.co.in
The Use of Adsorbed Natural Gas Technology for Large Scale Storage.
R.W. Judd, D.T.M. Gladding, R.C. Hodrien, D.R.Bates,J.P.Ingram, M.Allen BG Technologv, Gas Research and Technology Centre. AshbyRoad. Loughborough. LEI1 3GR. UK
https://web.anl.gov/PCS/acsfuel/preprint%20archive/Files/43_3_BOSTON_08-98_0575.pdf
https://web.anl.gov/PCS/acsfuel/preprint%20archive/Files/43_3_BOSTON_08-98_0575.pdf
Low Pressure Adsorbed Natural Gas for Vehicles
http://www.gl-nobledenton.com/assets/downloads/ANG_for_Vehicle_truck_DS.pdf
Introduction
The use of natural gas as a vehicular fuel has become a more attractive alternative to gasoline and diesel fuels because of itsinherent clean burning characteristics. Compressed natural gas(CNG) vehicles that store natural gas at 3,000 psig havehistorically been the most popular type of natural gasvehicle (NGV).
Adsorbed natural gas (ANG) is a technology in which natural gas is adsorbed by a porous adsorbent material at relatively low pressures, 500 to 600 psig. When a natural gas storage vessel is filled with a suitable adsorbent material, the gas capacity will be greater than that of the same vessel without the adsorbent, when filled to the same pressure. When compared to CNG, ANG can store half to two-thirds the amount of gas, but at one-sixth the pressure
ANG Benefits
ANG system pressures of 500 to 600 psig allow designers to progress from the constraints of cylindrical-shaped containers currently used by CNG vehicles. Conformable tanks, similar to conventional gasoline tanks, would not intrude upon or detract from on-board storage space.
The capital and the operating cost of compression and refueling equipment also have the potential to be lower than current CNG equipment, a significant benefit for infrastructure. operators (savings up to 50%). Moreover, the global warming potential for ANG is also reduced because less energy is required to compress natural gas, resulting in fewer carbon dioxide emissions. From a safety and utilization perspective, lower ANG pressures may be more readily accepted compared to CNG.
Adsorbent Material
The best performing materials developed thus far are carbons derived from available materials including coconut shell, coal and wood. These materials have a naturally occurring pore structure that can be optimized for the adsorption of the methane in natural gas. The method of densifying, or compacting, the adsorbent is also critical to achieving acceptable performance. A high performance adsorbent material capable of greater than 150 V/V at 500 psig has been produced by GL Noble Denton and partners
(the AGLARG consortium); other materials with lower storage density are available at lower cost, and can be better solutions in some circumstances
Multicell ANG Tank
The ANG tanks developed by GL Noble Denton are aluminum of,multicellular, rectangular design. The tank is produced by a bridge die extrusion process. The tank material and multicell design aids in thermal management of ANG.
Guard Bed Filter
A guard bed device can be incorporated into an ANG system to filter out natural gas “impurities” (hydrocarbons above C5) prior to entering the main ANG tanks. The guard bed can be heated during operation of the vehicle to regenerate the adsorbent and return these higher hydrocarbons to the fuel stream to be burned in the engine.
The ANG fuel system is transparent to the driver with vehicle performance and drivability equal to, if not better, than comparable gasoline models. The aluminum multicell tank filled with adsorbent design has proved its flexibility on a DodgeTM Dakota truck, in a
passenger vehicle, and most recently, custom designed to fit a two-wheeled scooter.
Advantages of ANG
Space Efficient, Flexible Storage Gas storage using ANG allows for reductions in storage pressures allowing more flexible and possibly lighter storage systems to be installed. Flatter, shaped tanks can use space much more efficiently than CNG cylinders. The volumetric efficiency of ANG storage over more traditional CNG storage cylinders is typically more than 25%
Increased Equivalent Capacity
ANG storage units can store much more natural gas than an equivalent storage cylinder with CNG at the same pressure.
Safety benefits
Lower fuelling pressure coupled with gas storage on a carbon rather than in free space confers real safety benefits in most instances.
Reductions in Infrastructure Costs
Reduced pressure relative to CNG allows for reductions of up to 50% in infrastructure and operating costs for filling stations.
Flexibility in Filling Options
Thanks to the low operating pressures of ANG technology a wide
range of filling options can be employed;
• Fixed Filling Stations
• Mobile Filling Stations
• Home Based Refueling
• Cartridge Refilling System
GL Noble Denton typically proposes a technology transfer route for ANG technology based on the assumption that the client ultimately wishes to license the technology with a view to commercial implementation.
• Specification definition phase with client to determine requirements, for example, operating parameters, gas compositions, demand profile matching and environmental
considerations.
• GL Noble Denton will conduct a feasibility study developing predictions and simulations of performance of the technology under local conditions, and outlining the potential for technology implementation in local networks.
• Support the client in implementation and management of a demonstration of ANG technology.
• Technology transfer and licensing agreements with support for future development plans
www.gl-nobledenton.com
Email : glnobledenton@gl-group.com
Senin, 02 Juni 2014
Rabu, 28 Mei 2014
STUDI APLIKASI DAN KINERJA DME SEBAGAI BAHAN BAKAR BARU/ALTERNATIF SUBSTITUSI LPG UNTUK RUMAH TANGGA, INDUSTRI DAN TRANSPORTASI
DIPA Tahun 2010
ABSTRAK
Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebagaimana
tertuang dalam Peraturan Presiden RI Nomor 05 Tahun 2006 memberikan panduan diversifikasi
energi dengan mengembangkan energi alternatif. Melalui kebijakan ini,
diharapkan pertumbuhan sumber energi alternatif dapat terpacu. Upaya
diversifikasi energi dengan mengoptimalkan sumber energi lain diantaranya
adalah program konversi minyak tanah dengan LPG.
Dimethyl
ether (DME) adalah bahan
bakar yang memiliki sifat yang mirip dengan LPG mempunyai potensi cukup besar
untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai bahan bakar pengganti atau campuran
LPG. Pemanfaatan bahan bakar ini dapat dilakukan pada sistem pembakaran pada
industri kecil seperti burner dan mesin-mesin pembangkit tenaga listrik
(generator).
Penelitian kinerja DME murni sebagai bahan bakar pada industri kecil
(burner) dimaksudkan untuk mengamati pengaruh pemakaian bahan bakar DME pada
sistem pembakaran burner yang digunakan pada industri-industri kecil. Dengan
bantuan software akan diperoleh konfigurasi terbaik untuk memberikan campuran bahan
bakar – udara optimum sehingga diperoleh efisiensi tertinggi untuk bahan bakar
baru.
Studi Pemanfaatan LPG Mix DME pada Generator dimaksudkan untuk mengamati
pengaruh pemakaian beberapa variasi campuran DME dalam LPG pada mesin
pembangkit listrik. Unjuk kerja, konsumsi bahan bakar dan emisi merupakan
pengaruh yang diamati pada pemanfaatan bahan bakar ini.
MAKSUD DAN TUJUAN
Kegiatan ini dimaksudkan untuk
melakukan kajian terhadap
karakteristik dan kinerja DME dan LPG Mix DME sebagai substitusi LPG pada
peralatan di sektor industri kecil terutama pada burner dan mesin pembangkit
listrik (generator). Dengan adanya kajian ini diharapkan memberikan solusi
teknis yang tepat dalam pemanfaatan bahan bakar alternatif ini. Untuk tahun
2011 akan dilaksanakan 2 (dua) buah studi yaitu :
a.
Penelitian Kinerja DME Murni Sebagai Bahan Bakar
pada Industri Kecil (burner)
b.
Studi
Pemanfaatan LPG Mix DME pada Generator
HASIL
1. Memperoleh data teknis pemanfaatan DME
sebagai bahan energi alternatif subsitusi LPG untuk industri kecil terutama
pada burner yang ada di pasaran dengan variasi campuran LPG dan DME.
2. Memperoleh data teknis hasil simulasi
dengan menggunakan software computational fluid dynamic.
3. Memperoleh data karakteristik bahan bakar
LPG mix DME pada beberapa variasi
campuran.
4. Memperoleh data teknis pemanfaatan DME
sebagai bahan energi alternatif subsitusi LPG untuk mesin pembangkit listrik
(generator) yang ada di pasaran dengan variasi campuran LPG dan DME.
Senin, 26 Mei 2014
APLIKASI PEMANFAATAN LPG SEBAGAI BAHAN BAKAR SEPEDA MOTOR
By: Emi Yuliarita; Maymuchar; Cahyo; Riesta; Lies; Dimitri; Reza; Lutfi; Herry; and BBMG "LEMIGAS" Group
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kepada Tuhan yang maha kuasa atas terselesaikannya laporan pelaksanaan kegiatan
Analisis Responsif Gender (ARG) – Aplikasi Pemanfaatan LPG Sebagai Bahan Bakar
Sepeda Motor. Kegiatan ARG ini sebagai bagian dari program kegiatan penelitian
dan pengembangan dalam bidang minyak dan gas bumi di lingkungan PPPTMGB
“Lemigas” yang khusus kepada program pengarusutamaan gender (PUG). Kegiatan ini
terselenggara atas dasar masih besarnya kesenjangan partisipasi kalangan
perempuan dalam akses hasil-hasil pembangunan nasional termasuk di dalamnya Aplikasi
Pemanfaatan LPG Sebagai Bahan Bakar Sepeda Motor.
Aplikasi Pemanfaatan
LPG Sebagai Bahan Bakar Sepeda Motor pun yang masih
terbilang baru dan perlu dilakukan sosialisasi terhadap penggunanya. Sesuai dengan juklak
kegiatan ARG bahwa kegiatan ARG mengakomodasi terhadap dua hal yaitu Keadilan bagi perempuan dan laki-laki (dengan mempertimbangkan peran dan hubungan
gendernya) dalam memperoleh akses, manfaat (dari program pembangunan), berpartisipasi
dalam proses pengambilan keputusan dan mempunyai kontrol terhadap sumber-sumber
daya dan
kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki dalam kesempatan / peluang dalam memilih dan dalam menikmati hasil pembangunan, karenanya pada
pelaksanaan kegiatan ARG ini dilakukan sosialisasi dan penyebarluasan hasil
penelitian yang sudah dilakukan di PPPTMGB “LEMIGAS” kepada kalangan perempuan
yang dalam hal ini adalah penelitian Aplikasi Pemanfaatan LPG Sebagai Bahan
Bakar Sepeda Motor.
Ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada seluruh anggota Tim Pelaksana, Koordinator
KPPP Teknologi Aplikasi Produk dan Kepala Pusat PPPTMGB ”LEMIGAS” beserta jajarannya atas semua dukungan sehingga program kegiatan ARG
ini dapat terlaksana dengan baik.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kenaikan populasi kendaraan bermotor roda dua dalam beberapa tahun ini
cukup signifikan, tercatat pada tahun 2009 terdapat
87.136.000 buah kendaraan ini dengan berbagai
merek. Ini
berarti kendaraan ini telah meningkat sebesar 318,72% selama sepuluh tahun terakhir ini. Kenaikan
jumlah ini berdampak pada kebutuhan akan bahan bakar minyak meningkat. Dilain
pihak cadangan bahan bakar gas sebagai bahan bakar alternatif masih cukup banyak
tersedia. Berdasarkan hal ini peluang untuk menggunakan LPG cukup besar
terutama digunakan sebagai bahan bakar sepeda motor.
Pemanfaatan LPG
sebagai bahan bakar
sepeda motor merupakan suatu alternatif yang menjanjikan jika ditinjau dari
aspek ketersediaan sumber energi dan aspek lingkungan. Namun demikian,
pemanfaatan LPG sebagai bahan bakar sepeda motor bukan tanpa resiko. Kondisi
penyimpanan LPG dalam tabung bertekanan dapat menyebabkan keadaan berbahaya
bagi pengguna dan lingkungan sekitarnya. Sistem pembakaran pada sepeda motor
berbahan bakar bensin juga harus disesuaikan dengan LPG sebagai bahan bakar
baru. Oleh karena itu perlu dilakukan modifikasi sistem penyimpanan, penyaluran
bahan bakar dan pembakaran LPG sehingga kendaraan dapat beroperasi dengan baik.
Komponen utama LPG umumnya
tersebut terdiri dari senyawa propane (C3H12), Propyline
atau Propena (C3H6), butane (C4H10), butylenes atau butena (C4H8),
dan sejumlah kecil ethane (C2H6), ethylene (C2H4), dan penthana (C5H12). LPG
yang digunakan di Indonesia yang dikenal sebagai bahan bakar gas LPG, meliputi
bahan bakar gas LPG untuk kebutuhan rumah tangga, industri dan komerial serta
untuk kendaraan bermotor yaitu bahan bakar gas LPG campuran propana dan butane
yang dikenal dengan Elpiji Campuran. Di Indonesia, jenis elpiji ini biasanya
mempunyai komponen utama propane +
30% dan butane 70%. Bahan bakar gas LPG untuk kebutuhan khusus dan komersial,
yaitu bahan bakar gas Elpiji propana, yang disebut Elpiji propane.
Elpiji merupakan merk
dagang dari LPG atau Liquefied Petroleum
Gasses, secara umum LPG bersifat :
►
Berat jenis gas LPG lebih besar dari udara, yaitu :
● Butana
mempunyai berat jenis dua kali berat jenis udara.
● Propana
mempunyai berat jenis satu setengah kali berat udara.
► Tidak mempunyai sifat pelumasan terhadap metal.
► Merupakan Solvent yang baik terhadap karet, sehingga
perlu diperhatikan terhadap kemasan atau tabung yang di pakai.
► Tidak berwarna baik berupa cairan maupun dalam bentuk
gas.
► Tidak berbau. Sehingga untuk kesalamatan, LPG komersial
perlu ditambah zat odor, yaitu Ethyl
Mercaptane yang berbau menyengat seperti petai.
► Tidak
mengandung racun.
► Bila
menguap di udara bebas akan membentuk lapisan karena kondensasi sehingga adanya
aliran gas.
►
Setiap kilo gram LPG cair dapat berubah menjadi kurang
lebih 500 liter gas LPG.
Dalam mengkonversi
kendaraan berbahan bakar premium atau solar dengan bahan bakar LPG dapat
dilakukan melalui dua sistem yaitu :
1. Sistem Bi-fuel
Sistem bi-fuel merupakan suatu sistem konversi
bahan bakar pada kendaraan bermotor, sehingga dapat beroperasi dengan
menggunakan dua jenis bahan bakar yang dipilih sesuai dengan jenis bahan bakar
yang diperlukan. Perubahan ke sistem ini dilakukan hanya dengan memasang
peralatan konversi (conversion kit)
LPG tanpa merubah sistem bahan bakar konvensional sehingga kendaraan tersebut
dapat beroperasi menggunakan bahan bakar bensin atau LPG. Pemilihan penggunaan
bahan bakar tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan switch yang dipasang di bagian depan/panel kendaraan. Kelemahan sistem
ini adalah belum adanya kesepakatan mengenai waktu penyalaan dan bentuk mixer yang cocok untuk kedua jenis bahan
bakar sehingga menyebabkan menurunnya daya dan kecepatan maksimum yang
dihasilkan bila kendaraan tersebut menggunakan bahan bakar LPG. Hal ini dikarenakan
kendaraan yang digunakan memang telah di desain beroperasi dengan bahan bakar
bensin. Kelemahan lain adalah sistem ini hanya dapat diterapkan pada kendaraan
bensin.
2. Sistem Full Dedicated
Sistem full dedicated merupakan suatu sistem
konversi bahan bakar pada kendaraan bermotor sehingga kendaraan tersebut hanya
dapat beroperasi dengan bahan bakar LPG saja. Kelebihan sistem ini dapat
diterapkan pada kendaraan bensin maupun diesel. Pada kendaraan bensin untuk mendapatkan
hasil yang baik perlu dilakukan sedikit perubahan yaitu rasio kompresi
dinaikkan satu angka lebih tinggi dari rasio kompresi kendaraan yang sebelum
dikonversikan dan waktu penyalaan yang perlu disesuaikan dengan bahan bakar
LPG. Sistem full dedicated pada
kendaraan bensin dapat diubah kembali ke sistem konvensional. Sedang pada
kendaraan diesel perubahan yang diperlukan akan lebih rumit karena kendaraan
tersebut harus diubah menjadi kendaraan bensin.
Langganan:
Postingan (Atom)